Dari judulnya aja sudah mbulet (ruwet) ya kita coba menelaah dan mencerna kalimat diatas,…🙂 tapi aku juga sempat bingung amat sih maksudnya kurang kerjaan banget. Aku termasuk mahasiswa mana sih,,pengen tau baca sampek habis,,,. Menilik fenomena diatas tidak lepas dari peranan Manusia selalu berubah. entah itu berubah jadi remaja, orang dewasa, orang tua dan akhirnya tinggal nama..bercanda-bercanda. Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman yang didapatkan, serta perubahan lingkungan, manusia selalu membuat perubahan-perubahan dalam hidupnya agar lebih baik. Salah satu tahap dalam hidup manusia yang penuh dengan perubahan adalah saat mereka kuliah. Selain jadwal yang selalu berubah setiap semesternya, dan revisi-resivi yang tidak ada akhirnya, tugas-tugas yang menumpuk setiap akhir semester mahasiswa pun berevolusi, seiring dengan lamanya mereka berada di kampus tercinta…k bisa ya ????????????????????

Setelah melakukan penelitian intensif, uji klinis, uji higenis serta tak lupa uji emisi , siapa tau bakalan lolas uji emisi dulu sebelum mobil Esemka… mantap. Profesor dari thedawak corporation menemukan pola evolusi yang paling umum sering di ikuti mahasiswa indonesia dan menjadi tren senter dan tonggak sejarah perubahan zaman dari zaman penjajahan sampek zamanya SBY (monggo lanjutkan),…

NB: ini hanya untuk hiburan semata, jika anda merasa  tersinggung atau tidak terima dengan ini jangan hubungi saya ya…hubungi diri anda sendiri sejauh mana sih anda..soalnya saya sendiri masih binggung [intropeksi diri saya sendiri sejauh mana saya]…nah jangan berlama-lama ini saatnya:
Tingkat 1

Pas tingkat 1, biasanya mahasiswa masih adaptasi sama lingkungan dan orang-orang baru, biasanya pakaiannya lumayan rapi+wangi+bary gitu, biar pencitraannya bagus gitu, apalagi di hadapan lawan jenis. wah pastinya sob bakalan klepek2..anak siapa sih ini cakep amat. Dan karena ketemu temen-temen baru, masih suka jaim, belom ketauan belang-belangnya. Tingkat 1 adalah waktu untuk membangun pencitraan.

Kalo soal kuliah, jangan ditanya sob…biasanya masih semangat-semangatnya. pantang pulang sebelum dosen datang..hehehehe. Semua buku dibawa, dari buku wajib (yang asli impor, harganya 500 ribu), buku pinjemen (sampek g dikembali-kembalikan) , buku suplemen dari perpus, catetan, dan laptop. Berengkat pagi,,pastinya sob, subuh pasti dah mandi dan berdandan rapi🙂 …. Tugas? Pastinya dikerjain banget! kalau perlu minta tugas tambahan…hahahaha
Tingkat 2

Di tingkat 2 ini biasanya lagi betah-betahnya di kampus, tapi bukan buat kuliah. Setelah mengerti trik-trik ampuh titip absen dan cabut kuliah, anak-anak tingkat 2 ini mulai menyadari kalo kuliah cuma masuk kelas doang itu nggak asik coy. Mereka mulai aktif di organisasi, ikut kepanitiaan acara ini itu sampek acara yang g jelas, gabung di perkumpulan mahasiswa, gabung kegiatan extra kampus, ikut seminar dll. bayak banget dech

Biasanya mereka dateng pagi ke kampus. Terus setor muka sama absen di kelas sebentar, abis itu mulai sibuk rapat, team building, seminar ini itu. Penampilan juga udah nggak serapih tingkat 1. Udah mulai akrab sama temen-temen baru, gebetan juga udah dapet <bagi yang belum merasa sabar aja ya. kesempatan masih banyak k>🙂 , jadi mulai cuek. Biasanya ke kampus pake kaos yang ada logo universitasnya gitu, biar dikira anaknya kampus.
Tingkat 3

Di tingkat 3, biasanya udah jarang keliatan di kampus. Bukan karena bolos, tapi jadwal kuliah biasanya udah nggak sepadet tingkat 1 dan 2. Kalo dulu bisa tiap hari masuk, sekarang bisa cuma suka-suka, kalau niyat masu masuk ya masuk kalau enggak ya ngapain masih <males amat> heheheheha. Akibatnya, pas tingkat 3 ini jadi lebih sering jalan-jalan ama seneng-seneng ketimbang kuliah. Karena itu, biasanya pakaiannya lebih cocok buat ke mall daripada ke kampus.

Karena jadwal yang lowong itu, masuk kelas biasanya cuma selewat aja. Anak tingkat 3 dateng pagi/siang pas ada kelas, abis selese kelasnya langsung cabut ke tempat lain. Kepanitiaan dan organisasi juga udah nggak se-intense tingkat 2. Karena udah senior rek, jabatan yang dipegang juga lebih tinggi. Jadi kerjaannya udah nggak ribet waktu masih jadi staf biasa.
Tingkat 4

Tingkat 4 identik dengan skripsi atau tugas akhir. Dan segala aspek kehidupan mahasiswa di tingkat 4 ini, semuanya dipusatkan ke skripsi tersebut. Walaupun kelas tinggal 1 atau bahkan enggak ada, mereka tiap hari nongol di kampus, entah ngetik di perpustakaan ditemani dengan 2 buku yang dibuka plus beberapa fotokopian jurnal atau ngejar-ngejar dosen pembimbing.

Gizi mahasiswa tingkat 4 ini biasanya juga buruk, karena stress mikirin skripsi. Muka-mukanya biasanya beler gara-gara kurang tidur ato bete gara-gara skripsinya abis diacak-acak sama dosen pembimbing. Mahasiswa tingkat 4 juga biasanya nggak punya kehidupan sosial yang aktif.
Tingkat 5 (dan seterusnya)

Kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Di dunia kuliah pun sama. Setelah 4 tahun berjuang keras supaya bisa lulus cepet, ternyata ada aja hal yang bisa menghalangi. Dari ada kelas yang nyangkut, atau dosen pembimbing sensi sama kita, jadinya nggak dilulus-lulusin. Dengan terpaksa, ada beberapa mahasiswa yang harus berevolusi ke mahasiswa semester 9 (dan seterusnya)

Jenis yang satu ini banyak ragamnya. Ada yang makin jarang ke kampus karena sibuk sama kerjaan lain (atau udah bodo amat sama kuliahan). Ada yang masih rajin ke kampus karena masih banyak kelas yang belom lulus. Ada juga yang nyangkut di perpustakaan karena KTM nya disita atau belum mengembalikan buku, berusaha keras buat nyelesein tugas akhir yang susahnya setengah mati. Ada juga yang gak jelas ngapain, tapi tiap hari ke kampus, dianggap tetua, trus hobinya gangguin anak-anak tingkat 1. Walaupun jenis ini beraneka ragam, mereka punya sebuah kesamaan, yaitu sebuah alergi pada 2 kata : “Kapan lulus ?”