Jam menunjukkan pukul 23.00 wib, hayalan mulai menyergep menghisi malam-mlam panjang. Mambuka laptop menulis sesuatu sebagai pengantar tidur malam, kalau dulu saya sering dibacain dongen sama ibu untuk pengantar tidur, tapi sekarang g afdol rasanya kalau g buka laptop dulu habis itu baru tidur (kalau ketiduran jangan buat guling ya laptopnya..hehehe🙂 ) .  saya jadi teringat Masa muda adalah masa yang paling indah. Kata Nijdi “indahnya bercinta saat muda” itu memang benar,,,kayak pernah aja!!!!. Ssssttz ini penting g bercanda lagi, sudahkah kita manfaatkan masa muda kita untuk sesuatu yang barmanfaat???? Hal apa yang bisa kamu banggakan saat ini dan dapet dirasakan manfaatnya????  Rasulullah SAW bersabda  “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, berakhlak mulia, mempelajari Al Quran dan mengajarkannya, serta orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya.” saya termasuk g ya…mmmmm :( mudah-mudahan bukan hanya saya tapi kita semua..amin

Melawan Arus, nembus batas.. ditengah-tengah tuntutan ekonomi dan budaya yang semakin hari semakin membuat dada sesak dan agak prihatin bahkan tak jarang apa memang ini lah kehidupan. banyak pemuda-pemuda di desa saya (mengambil semple aja desa saya dengan asumsi saya lebih mengenal seluk beluknya lebih lama dari pada di gresik)  yang mempunyai postur tubuh yang tinggi (kalau yang pendek berarti anda harus bersyukur..kalian g termasuk) dan mempunyai tingkat kacerdasan yang cukup di didik dan didoktrin para orang tuanya untuk menjadi angkatan (angkat besi, angkat tangan, sampai angkat-angkat ) maksud saya menjadi  polisi atau TNI. agar cepet-cepet bisa memperoleh pekerjaan dan ujung-ujungnya adalah uang . para orang tua rela mengeluarkan kocek extra untuk menunjang cita-cita yang mereka inginkan pada anaknya  (dibelikan susu bendera,SGM sampai susu nutrilon) bukan hanya soal suplemen mereka berani merogoh kocek lebih dalam lagi, soal olahraga yang bisa menunjang postur tubuh seperti renang, joging, dan bergelayutan (kayak monyet itu lho) meraka sangup membiayainya …tapi pertanyaanya sekarang adalah kenapa kalau soal biaya daftar les, beli buku, daftar ulang atau untuk kuliah pasti alasanya “lagi tidak punya uang, sabar ya nak”  ??? sekarang apa yang salah,kenapa orang tua lebih bangga anaknya jadi polisi atau TNI dari pada jadi MAHASISWA, padahal notabennya para mahasiswa adalah agen perubahan kalau tidak ada mereka pasti tatanan pemerintah tidak akan seperti ini pasti akan kembali ke peradapan kerajaan yang punya uang akan mengendalikan semuanya karena tidak ada yang mengontrol. Mereka beranggapan “jadi mahasiswa belum tentu bisa mendapatkan pekerjaan, tapi jadi polisi/TNI pasti bisa jadi mahasiswa” .  Para orang tua berani memberikan uang juta-an rupiah bahkan tak jarang menjual seluruh harta benda yang dipunya agar anaknya diterima jadi polisi/TNI coba bayangkan aja tarifnya polisi sampek menembus angka 100 juta lebih itu dulu kalau sekarang pasti…g g g g kuat..g g g g kuat  (coba uang itu buat kuliah psti makmur kita,,,heheehehe) mereka beranggapan ”wes ogk opo-opo seng penting anakku ketompo” padahal tak jarang juga mereka ditipu mentah-mentah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang hanya memberikan jambu (janji busuk) tapi  sayangnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa kerena dalam posisi yang sulit. Mau melapor ke kantor polisi tidak punya bukti yang kuat  dan tak jarang juga karena system kita yang g jelas masing memegang teguh rasa “Sungkan” sehingga ke kantor polisi hanya akan menghambur-hamburkan uang lagi ibarat kata sudah jatuh ketimpa tangga, kaleng cet. Seharusnya usul saya  lapor ke KPK (komunitas Pecinta Kopi) yang ada di jakarta …di itung-itung biaya untuk kejakarta mahal juga,  serba susah  andai aja KPK kantornya ada di desa-desa bukan hanya ada di Jakarta pasti angka korupsi di Indonesia akan turun darstis malahan bisa terjun payung… . soalnya korupsi udah mengdarah daging  dan dah dianggap hal lumrah oleh sebagian masyarakat kita.

Sayang beribu sayang, nasi sudah menjadi bubur dan bubur sudah menjadi basi dan kalau sudah basi (mending  dibuang aja)  Pejuangan kita yang sebenarnya mempunyai daya intelektualitas, kreatifitas, cita-cita dan semangat harus menguburkan impiannya hanya demi title “iptu”, “kapten” “lettu” atau apalah saya juga g paham masalah title kayak begitu. Hidup ini Cuma sekali kawan dan tidak ada siaran ulang atau siaran tunda, kalau iya berhasil lulus atau diterima manjadi Polisi/TNI, tapi coba  kalau gagal (sekali sih g apa-apa gagal tapi kalau banyak kali ya “ngenes rek”  bisa-bisa strezz melanda dan pada akhirnya kalau banyak yang gagal bisa-bisa desa kita dikenal dengan desa strezzz..hehehehe🙂 . Tapi alhamdulilah tidak ada yang bunuh diri didesaku akibat tidak diterima sebagai polisi/TNI. ada Tapinya lagi akibat psikologis yang saya amati beberapa tahun terakhir ini menunjukan prilaku yang menyimpang. Mengapa saya katakan menyimpang, kebanyakan mereka yang sudah terdoktrinisasi harus jadi tapi pada akhirnya sang pencipta mengatakan gagal, mereka cenderung melampiskan pada hal-hal negative (negatifnya dalam segi apa itu “teliti sendiri rek” hehehehe).

Coba kalau mulai dari sekarang para orang tua sadar dan mengarahkan  generasi kita dididik semestinya unutk menjadi seorang yang berguna  yang mempunyai wawasan luas. 4 sampai 5 tahun kedepan kedepan tidak akan seperti ini. Semakin tahun angka pengaanguran, kemeskinan, BBM, Sembako, tensi darah,, sampai harga susu anak semakin tinggi aja. Kalau dibekali dengan ilmu yang cukup dan agama yang kuat mungkin problematika kehidupan seperti saat ini tidak akan terjadi. Agama tanpa adanya  ilmu  pincang, tapi ilmu tanpa adanya landasan agama bagaikan buta. Jadi semunya harus balance.

Ini adalah beberapa tips yang dianjurkan dari dany ryzky arif saputra., untuk calon ibu, calon bapak atau calon-calon yang lain jika tidak berhasil ya m gimana lagi, yang penting kita dah beusaha sampai detik terakhir ini.

  • Berilah kebebasan anak memilih kedepannya  mau jadi apa ? sesuaikan dengan bakat dan minat. Misalnya anak kita bakat dalam hal menari ya jangan disuruh untuk melukis  Gitu….jaka sembung naik ojek g nyambung jek!!!
  • Biarkan meraka berimajenasi, jangan paksakan anak jika tidak bisa hal ini itu,  justru akan membuat anak semakin terbebani. Anak kita tidak seperti panci bertekanan yang setiap saat bisa kita tekan, lama kelamaan panci aja bisa rusak kalu sering diberi tekanan apalagi anak kita kalau sering kita tekan bisa-bisa strez lagi, kesihan kan😦 .
  • Jangan hanya menyuruh, sebisa mungkin memberi contoh. Seperti kebanyakan orang tua hanya menyuruh ini itu, jangan ini jangan itu padahal orang tua kita melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya menyuruh anak jangan merokok padahal orang tuanya perokok berat, kan g masuk akal, alasanya sih Cuma sepele nanti boleh merokok jia suda bekerja (hubuanganya antara pekerjaan sama merokok itu apa ??? aneh kan), padahal dah jelas-jelas merokok merugikan kesehatan dan kantong kita.
  • Jadilah temen di saat anak kita membutuhkan temen, jadilah orang tua disaat anak kita butuh bimbingan, jadilah guru jika anak kita tidak tahu,,,tapi etizzz jangan jadi pembantu ya saat pembantu kita  tidak ada…hehhehehe

Nah sebagai anak ada beberapa tips yang mungkin bisa merubah pemikiran orang tua kita sehingga mau menyekolahkan kita lebih tinggi lagi, atau merubah cara berfikirnya. ini udah pernah saya terapkan pada orang tua saya sendiri sehingga mau menuruti apa cita-cita dan  kemauan saya ….

  • Bicaralah pada orang tua kita kalau kita memang g bisa menurutinya, jangan pernah hanya menurut saja apa yang diperintahkanya. Emang sebagai anak kita dituntut untuk menuruti semua perintah orang tua kita, membantah aja dalam islam tidak diperbolehkan apalagi membentak-bentak kayak disenetron-senetron yang ada di indonesia lebih-lebih ibu kita, surga aja ada ditelapak kaki ibu kita.
  • Berilah pengertian pada mereka, bahwa saya bisa bahagia walaupun saya tidak menjadi ini, itu atau apalah. Dan percayalah dan dukunglah saya agar pilihan yang saya pilih ini tidak salah memilih.
  • Turuti dulu apa yang yang terbaik menurut mereka karena apa orang tua kita tidak akan menjerumuskan kita.  Tapi setelah menuruti kita tidak bisa bicarakanlah pada orang tu kita, bahwa kita sudah berusaha tapi kita tidakn kuat dan tidak bisa , jika pun harus dipaksakan maka hasilnya tidak akan memuaskan Pengaalaman Saya pribadi selama 20 tahun tidak pernah membantah dan selalu menuruti apa yang dikatakan orang  tua saya. Tapi pada suatu ketika setelah saya berusaha menuruti apa yang orang tua saya mau tapi saya tidak bisa memenuhinya  dan akhirnya dengan berat hati dan saya harus mengatakan pada mereka bahwa saya tidak bisa menjadi apa yang mereka harapkan, saya kepengen kuliah walupun pada waktu itu kondisi keluargaku lagi kesusahan dan tidak ada  biaya kuliah untuk saya tapi Allah Maha Segala-galanya taka da yang tak mungkin. Akhirnya dengan Kebesaranya saya bisa kuliah,walaupun  harus menerima segala konsekuansi yang saya ambil tapi saya akan buktikan bahwa orang tua saya tidak salah mamberikan kepercayaan pada saya sehingga saya di izinkan untuk kuliah .

Mungkin kalau saya hanya berfikiran saja ini itu dan tidak menunjukan bahwa kita sebagai MAHASISWA bisa berbuat lebih dan bekarya bukan hanya untuk kemajuan diri kita, desa kita, bangsa dan Negara syukur-syukur bisa masuk TV (lumayan rek, bisa nampang🙂 ) . saatnya melawan arus menembus batas  merubah paradikma mayarakat sekarang dengan dengan cara menunjukan pada mereka bahwa kita bisa lebih dari mereka yang diterima sebagai polisi/TNI. Kesuksesan seseorang itu tidak diukur dari sebesar apa rumah kita, berapa banyak mobil kita, berapa banyak uang kita yang ada di bank, berapa banyak dan banyak. Tapi kesuksesan itu adalahsebuah proses bukan tujuan akhir kita, senakin banyak kita gagal semakin sukses lah kita. railah cita-citamu setinggi khalayanmu tidak peduli seberapa besar rintangan yang akan kamu lalui, yakinlah kamu tidak sendiri Allah SWT selalu beserta kita kemanapun kita pergi dan melangkah. …NOTHING IS IMPOSSIBLE